Fakta Tentang Perang Dunia Kedua
Perang ini bermula dengan ekspansi Jepang di Asia Timur dan pada akhirnya berakhir dengan menyerahnya Jepang di Asia Timur.

Jepang memulai konflik (di Manchuria, 1931) → Jepang juga lah yang mengakhiri konflik dengan menyerah (1945) → jadi, Jepanglah yang mengawali sekaligus mengakhirinya.
Perang bermula di Asia, melintasi seluruh penjuru dunia, dan kembali ke titik awal —berakhir tepat di tempat perjalanan panjang itu bermula: di Asia.
Mengapa Jepang Menyerang Manchuria
Jepang menginvasi Manchuria pada tahun 1931 terutama karena para pemimpin Jepang memandang wilayah tersebut sebagai kombinasi dari wilayah strategis, sumber daya alam, dan zona penyangga terhadap Uni Soviet.
Jepang adalah negara kepulauan kecil dengan sumber daya alam yang sangat minim—hampir tidak memiliki minyak bumi, sedikit bijih besi, pasokan batu bara yang tidak memadai, serta lahan pertanian yang terbatas.
Menjelang awal tahun 1930-an, Jepang berkembang pesat serta membangun kekuatan militer dan industri yang besar; namun, mereka tidak dapat bertahan atau terus berkembang tanpa mengimpor sumber daya dari luar—dan Manchuria (di timur laut Tiongkok) memiliki persis apa yang dibutuhkan Jepang.
Pemicu langsungnya adalah Insiden Mukden pada tanggal 18 September 1931. Perwira-perwira Jepang sengaja meledakkan sebagian kecil jalur kereta api yang dikuasai Jepang dan menuduh pasukan Tiongkok sebagai pelakunya. Jepang kemudian menggunakan insiden tersebut sebagai pembenaran untuk melancarkan operasi militer yang jauh lebih besar dan menduduki Manchuria.
Mengapa Jerman Menyerang Polandia
Hitler menyerang Polandia karena ia ingin memperluas wilayah Jerman ke arah timur, melenyapkan Polandia sebagai negara merdeka, dan menjadikan Polandia sebagai batu loncatan untuk penaklukan Eropa Timur yang lebih luas.

Perselisihan mengenai Danzig dan Koridor Polandia memberikan pembenaran yang lebih mendesak, sementara kesepakatan dengan Stalin membuat invasi tersebut jauh lebih mudah untuk dilaksanakan.
Pada tanggal 31 Agustus 1939, tentara Nazi yang menyamar sebagai pasukan Polandia menyerang sebuah stasiun radio Jerman. Jerman kemudian mengumumkan: "Polandia telah menyerang kita!" — dan menggunakan serangan rekayasa ini sebagai alasan resmi untuk melancarkan invasi keesokan paginya.
Persamaannya
Baik Jepang maupun Jerman melakukan hal yang PERSIS sama—mereka merekayasa serangan palsu, menyalahkan pihak yang mereka serang, dan berdalih "kami hanya membela diri!"
Mereka menggunakan taktik yang sama: membuat seolah-olah pihak lawanlah yang memulai segalanya, agar rakyat mereka sendiri maupun dunia mau menerima invasi tersebut.
Satu-satunya perbedaan adalah: Jepang berhasil meloloskan diri dengan tindakan itu pada tahun 1931—tidak ada yang menghentikan mereka. Jerman mencoba taktik serupa pada tahun 1939—namun kali ini, dunia berkata "Cukup!" → dan begitulah Perang Dunia II bermula.
Jepang dan Jerman melancarkan serangan karena keduanya menginginkan lebih banyak wilayah, sumber daya, dan kekuasaan.
Kenapa Jepang menyerang Pearl Harbor
Karena Amerika Serikat melakukan embargo ekspor minyak ke Jepang saat itu.
Sebagai protest atas agresi Jepang di Tiongkok dan Indochina, AS memberlakukan embargo ekspor minyak, besi tua, dan baja ke Jepang pada tahun 1940-1941.
Jepang sangat bergantung pada impor bahan mentah, terutama minyak bumi, dari Amerika Serikat untuk menjalankan mesin perangnya (terutama dalam invasi ke Tiongkok). Jepang merasa terdesak oleh kebijakan Amerika Serikat yang menghambat ambisi imperial mereka.

Angkatan Laut Jepang memperkirakan persediaan minyak mereka akan habis dalam waktu sekitar 6 bulan. Jepang dihadapkan pada pilihan mendesak: menarik diri dari wilayah pendudukan atau merebut sumber daya baru (terutama di Hindia Belanda/Indonesia).
Jepang ingin membangun imperium besar di Asia untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada Barat. Mereka berencana menguasai wilayah kaya sumber daya di Asia Tenggara (seperti karet, timah, dan minyak di Indonesia, Malaya, dan Filipina).
Masalahnya: Wilayah-wilayah tersebut saat itu dikuasai oleh kekuatan kolonial Eropa (Belanda, Inggris, Prancis) yang bersekutu dengan Amerika Serikat.
Jepang berpikir bahwa dengan melumpuhkan kekuatan laut AS dalam satu serangan cepat dan mendadak, mereka berharap dapat membeli waktu untuk menguasai Asia Tenggara tanpa gangguan.

Angkatan Udara Laut Terbaik
Pada tahun 1941, negara yang memiliki Angkatan Udara Laut (Naval Aviation / Penerbangan Angkatan Laut) terbaik di dunia adalah Kekaisaran Jepang.
Meskipun secara keseluruhan industri militer Amerika Serikat jauh lebih besar, khusus pada tahun 1941, Divisi Penerbangan Angkatan Udara Laut Jepang (IJNAF / Imperial Japanese Navy Air Service) berada di puncak kejayaannya dan melampaui negara mana pun dalam hal taktik, teknologi, serta kualitas pilot.
Kualitas Pilot Elit dan Terlatih

Pilot-pilot kapal induk Jepang pada tahun 1941 adalah para veteran perang dengan jam terbang ekstrem dari konflik di China sejak 1937. Program pelatihan pilot angkatan laut Jepang pada masa itu sangat ketat dan kejam, menghasilkan penerbang-penerbang dengan akurasi bidikan torpedo dan bom tertinggi di dunia (mencapai akurasi hingga 85% pada target bergerak).
Pesawat Tempur Superior (Mitsubishi Zero)
Pada tahun 1941, Jepang memiliki pesawat berbasis kapal induk terbaik di dunia, yaitu Mitsubishi A6M Zero. Pesawat ini jauh lebih lincah, memiliki jarak tempuh lebih jauh, dan lebih cepat daripada pesawat jet/baling-baling laut milik AS (F4F Wildcat) maupun Inggris pada waktu itu
Kapal Induk
Jepang memiliki lebih banyak kapal induk dibandingkan dengan Amerika Serikat pada saat penyerangannya ke Pearl Harbor (1941).
Jepang memiliki 10 kapal induk (6 kapal induk utama/fleet carrier yang tergabung dalam Kido Butai dan 4 kapal induk ringan) sedangkan Amerika Serikat hanya memiliki 7 kapal induk secara keseluruhan, dan beberapa di antaranya ditempatkan di Samudra Atlantik untuk menghadapi Jerman.
Namun keunggulan Jepang ini musnah setelah Pertempuran Midway pada Juni 1942, di mana mereka kehilangan 4 kapal induk utamanya sekaligus. Setelah momen itu, Jepang tidak mampu mengejar ketertinggalan produksi.
Seiring berjalannya Perang Dunia II, kapasitas industri raksasa Amerika Serikat mampu memproduksi kapal induk jauh lebih banyak dan cepat dibandingkan Jepang.

Sebelum Pearl Harbor diserang, negara mana yang memperoleh julukan "Superpower"?
Sebelum Pearl Harbor diserang pada tahun 1941, istilah resmi "Superpower" (Adidaya) sebenarnya belum lahir dalam kosa kata politik dunia. Istilah tersebut baru pertama kali diciptakan oleh pakar geopolitik William T.R. Fox pada tahun 1944 untuk menggambarkan negara dengan kekuatan global yang tidak tertandingi.
Namun, jika konteksnya adalah negara yang memegang status sebagai kekuatan global tunggal nomor satu (hegemon dunia) dengan pengaruh politik, ekonomi, dan militer terluas di bumi pada masa itu, maka julukan tersebut ditujukan pada Imperium Britania (Britania Raya / Inggris).
Jumlah Peralatan Perang 1941
| Category | Germany | Soviet Union | United Kingdom | Japan | United States |
|---|---|---|---|---|---|
| Total Armed Forces | ~7.2 million | ~5.4 million | ~3.4 million | ~2.4 million | ~1.9 million |
| Tanks / Armored Fighting Vehicles | ~5,600 | ~25,700 | ~4,600 | ~2,200 | ~2,300 |
| Combat Aircraft | ~10,000 | ~18,700 | ~5,700 | ~2,675 (first-line) | ~3,300 |
| Aircraft Carriers | 0 | 0 | 7 | 10 (6 fleet) | 7 |
| Battleships | 4 | 3 | 12 | 10 | 17 |
| Cruisers | 8 | 7 | ~57 | 38 | 37 |
| Destroyers | ~22 | 54 | ~200 | ~110 | 171 |
| Submarines | ~57 | 218 | ~69 | 65 | 112 |
Jerman lebih diincar
Menurut para pemimpin militer AS dan Inggris, Jerman lebih diprioritaskan untuk dikalahkan terlebih dahulu, ini karena Jerman dipercaya memiliki kapasitas industri, sains, dan kekuatan militer yang jauh lebih berbahaya dibandingkan Jepang.
Strategi rahasia ini dikenal dengan nama Doktrin "Europe First" (Utamakan Eropa) atau Strategi Jerman Pertama (Germany First).
Alokasi Sumber Daya yang Berat Sebelah
Secara data dan statistik militer selama Perang Dunia II, AS meletakkan mayoritas kekuatannya di Eropa, bukan di Pasifik:
Pasukan Darat: Sekitar 70% hingga 75% personel militer dan logistik AS dikirim ke medan perang Eropa dan Afrika Utara untuk melawan Jerman dan Italia.
Medan Pasifik: Hanya sekitar 25% hingga 30% kekuatan AS yang dialokasikan untuk melawan Jepang. Medan Pasifik sebagian besar diserahkan kepada Angkatan Laut (US Navy) dan Korps Marinir di bawah pimpinan Laksamana Nimitz dan Jenderal MacArthur.
Bagaimana Jerman Dikalahkan Dalam Perang Dunia Kedua
Jerman Nazi dikalahkan dalam Perang Dunia II melalui pengeroyokan total dari dua arah (timur oleh Uni Soviet dan barat oleh Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Perancis). Dari atas juga diserang oleh jatuhan bom bom oleh AS dan Inggris.
Kekalahan terbesar dan paling mematikan bagi Jerman terjadi di Front Timur melawan Uni Soviet. Disinilah sebanyak 80% tentara Jerman tewas oleh serangan Uni Soviet.
USSR hilang paling banyak tentara pada perang dunia kedua, sekitar 8.7 - 11 juta tentara, diikuti dengan Jerman 5.3 juta dan Tiongkok 3 -4 juta tentara. UK dan Perancis hilang paling sedikit tentara, yakni 210,000 tentara untuk Perancis, dan 383,700 tentara untuk Inggris.
Pada 30 April 1945, menyadari bahwa kekalahan sudah mutlak dan tidak ingin ditangkap oleh Soviet, Adolf Hitler bunuh diri di bunker bawah tanahnya di Berlin. Pada saat tewasnya Adolf Hitler, hanya Uni Soviet yang berada di dalam Berlin.
Kenapa Uni Sovet atau Amerika Serikat tidak menggunakan bom atom di Berlin?
Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet belum memiliki bom atom pada saat itu. Bom atom pertama di dunia baru berhasil diuji coba dalam Trinity Test di New Mexico pada 16 Juli 1945 (dua bulan setelah Jerman kalah).
Uji coba bom atom pertama di dunia tersebut dibuat dan dijalankan oleh tim ilmuwan serta militer Amerika Serikat di bawah program rahasia bernama Proyek Manhattan (Manhattan Project).
J. Robert Oppenheimer (Direktur Ilmiah) merupakan fisikawan teoretis yang dijuluki sebagai "Bapak Bom Atom". Ia memimpin ribuan ilmuwan, insinyur, dan teknisi berbakat dari berbagai belahan dunia di laboratorium rahasia Los Alamos, New Mexico.
Sedangkan Uni Soviet baru berhasil mengembangkan dan menguji coba bom atom pertama mereka (RDS-1) pada 29 Agustus 1949, empat tahun setelah Perang Dunia II berakhir, berkat bantuan jaringan intelijen mereka yang menyusup ke proyek AS.
Bom atom tidak diciptakan oleh satu orang saja.
Proyek Manhattan melibatkan puluhan ribu orang—ilmuwan, insinyur, teknisi, tentara, pekerja konstruksi, dan tenaga administrasi—yang bekerja di berbagai lokasi. Total orang yang terlibat: sekitar 129.000 orang pada puncaknya.

Oppenheimer memimpin tim ilmiah di Los Alamos, namun bom atom tersebut merupakan hasil dari upaya besar berskala internasional yang mencakup bidang sains, teknik, industri, dan militer, yang dikenal sebagai Proyek Manhattan.
Banyak ilmuwan tersebut lahir di luar Amerika Serikat dan berimigrasi ke sana, sering kali akibat bangkitnya Jerman Nazi dan fasisme di Eropa.
Tindakan penganiayaan dan pengusiran ilmuwan oleh Nazi Jerman turut mendorong sejumlah pemikir ilmiah terhebat Eropa untuk hijrah ke Amerika Serikat—dan beberapa di antara ilmuwan tersebut pada akhirnya membantu Amerika Serikat mengembangkan bom atom yang kelak menjadi salah satu teknologi penentu dalam Perang Dunia II.
Apakah Dr. Chien-Shiung Wu juga merupakan salah satu ilmuwan yang menyumbang terbuatnya bom atom pada saat itu?
Ya, benar. Dr. Chien-Shiung Wu merupakan salah satu ilmuwan perempuan paling penting yang berkontribusi langsung dalam menyukseskan pembuatan bom atom di bawah Proyek Manhattan.
Fisikawan eksperimental keturunan Tionghoa-Amerika yang dijuluki "The First Lady of Physics" ini menyumbangkan keahliannya melalui laboratorium di Columbia University sejak Maret 1944.
Kontribusi krusial Dr. Wu meliputi dua hal utama yang menyelamatkan proyek tersebut dari kegagalan, yaitu memecahkan masalah pengayaan uranium dan menyelamatkan reaktor nuklir Enrico Fermi (Xenon Poisoning).

Jika Proyek Manhattan diibaratkan sebagai pembuatan mobil balap, Dr. Wu bukanlah orang yang merakit mesin, roda, ataupun sasisnya. Terlebih lagi, ia tidak sekadar mencari dan menemukan minyak mentah begitu saja. Sebaliknya, dialah insinyur brilian yang merancang cara membangun kilang minyak berskala mikroskopis untuk menghasilkan bahan bakar balap murni beroktan tinggi. Tanpa proses pemurnian yang ia ciptakan, para mekanik memang akan memiliki mesin, namun tidak akan memiliki bahan bakar yang mampu menjalankannya.
Kontribusi lainnya juga berhasil melakukan perbaikan pada alat Geiger counter, yang membuat deteksi kadar radiasi nuklir selama proyek berlangsung menjadi jauh lebih akurat dan aman bagi para peneliti.
Meskipun kontribusinya sangat vital bagi kemenangan Sekutu, nama Dr. Chien-Shiung Wu sempat terpinggirkan dari catatan sejarah populer karena masalah diskriminasi gender dan sentimen anti-Asia pada masa perang.
Namun, karena ia begitu luar biasa, ia akhirnya menjadi ilmuwan pertama yang masih hidup (saat itu) yang namanya diabadikan sebagai nama asteroid.
| Home | Cara Membeli | Contact Us | About Us | Sitemap | BanSos |