Lebih banyak air atau daratan di bumi?
Bumi kita didominasi oleh air. Secara keseluruhan, sekitar 71% permukaan bumi ditutupi oleh air, sedangkan 29% sisanya adalah daratan (benua dan pulau-pulau).
Jika dibayangkan, hampir tiga perempat dari planet kita berwarna biru jika dilihat dari luar angkasa.
Tahukah Anda? Meskipun air menutupi sebagian besar permukaan bumi, air sebenarnya hanya menyusun sekitar 0,02% dari total keseluruhan massa planet bumi. Ini karena lapisan air (hidrosfer) sangatlah tipis jika dibandingkan dengan tebalnya mantel dan inti bumi yang berupa batuan dan logam padat di bawahnya.

Lebih banyak air atau bebatuan di bumi?
Jika kita melihat permukaan luar planet kita, air memang tampak mendominasi. Namun, jika kita melihat Bumi secara keseluruhan—dari permukaan hingga ke bagian intinya—jawabannya adalah jauh lebih banyak bebatuan dan logam.
Jika Bumi diibaratkan sebagai sebuah apel, seluruh air yang ada di Bumi (termasuk samudra terdalam) hanyalah lapisan embun tipis yang menempel di kulit apel tersebut. Bagian daging dan biji apel di dalamnya sepenuhnya adalah bebatuan dan logam padat yang sangat berat.
Berarti jika bumi kita terdiri dari hampir semua bebatuan dan logam, lain dengan manusia yang terdiri dari kebanyakan air?

Bumi dan tubuh manusia memiliki struktur yang justru bertolak belakang jika kita membandingkan komposisi keseluruhannya.
Bumi kita tampak basah di luar tetapi sebenarnya sangat kering dan padat di dalam. Sebaliknya, manusia tampak padat di luar (karena kulit dan tulang), tetapi di dalamnya sebagian besar adalah air.
Kesimpulannya: Bumi adalah "planet berbatu yang mengenakan mantel air yang sangat tipis," sementara manusia adalah "kantung air berjalan yang ditopang oleh rangka tulang yang padat."
Mengapa air di bumi kebanyakan asin?
Sekitar 97% air di Bumi adalah air asin yang berada di samudra dan laut. Hanya sekitar 3% sisanya yang merupakan air tawar (dan sebagian besar dari air tawar itu pun membeku di kutub atau tersimpan di dalam tanah).
Mengapa air di Bumi bisa menjadi sangat asin? Jawaban singkatnya adalah karena perjalanan air (seperti hujan) selama miliaran tahun yang terus-menerus mengikis daratan dan membawa garam ke laut.
Sumber Garam Tambahan: Dari Dalam Bumi
Selain dari kikisan batuan di darat, laut juga mendapatkan pasokan garam langsung dari dalam perut Bumi melalui dua cara utama:
- Ventilasi Hidrotermal (Hydrothermal Vents): Ini adalah celah-celah di dasar laut tempat air laut merembes masuk ke kerak bumi, menjadi sangat panas karena magma, melarutkan mineral dari bebatuan bawah laut, lalu menyembur kembali ke laut dengan kandungan mineral yang sangat tinggi.
- Gunung Berapi Bawah Laut: Ketika gunung berapi di dasar laut meletus, mereka melepaskan gas-gas asam dan mineral (seperti klorida dan belerang) langsung ke dalam air laut.
Mengapa air sungai tidak asin?
Sungai tidak terasa asin karena airnya terus mengalir dan berganti dengan cepat. Garam yang terkikis dari batu langsung dihanyutkan menuju laut sebelum sempat menumpuk. Lautan bertindak sebagai "bak penampungan akhir" tanpa jalan keluar selain penguapan, sehingga garamnya terjebak dan menumpuk di sana selamanya.
Apakah ada air di bulan?
Ada. Namun, wujudnya sangat berbeda dengan air yang kita miliki di Bumi. Di Bulan tidak ada danau, sungai, atau laut yang mengalir karena Bulan tidak memiliki atmosfer untuk menahan cairan tetap stabil di permukaannya.
Air di Bulan sebagian besar berwujud es batu yang membeku, atau terperangkap dalam bentuk molekul air (H2O) dan senyawa hidroksil (OH) di dalam butiran debu dan batu Bulan.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan menduga Bulan benar-benar kering kerontang. Namun, lewat berbagai misi antariksa, kita sekarang tahu bahwa air di Bulan tersebar di beberapa tempat:
- Di Kawah Kutub Selatan Bulan (Bentuk Es Padat)
Kutub Selatan Bulan memiliki kawah-kawah yang sangat dalam dan gelap abadi. Sinar matahari tidak pernah menyentuh dasar kawah ini selama miliaran tahun, sehingga suhunya sangat ekstrem (mencapai -180°C atau bahkan lebih dingin). Di sinilah cadangan es air terbesar berada karena es tidak bisa menguap akibat suhu dingin yang ekstrem tersebut. - Di Area yang Tersinari Matahari (Molekul Mikro)
Pada tahun 2020, teleskop SOFIA milik NASA mendeteksi adanya molekul air (H2O) yang terperangkap di dalam butiran kaca atau debu Bulan di kawah Clavius yang terkena sinar matahari. - Tersebar Tipis di Seluruh Permukaan
Penelitian terbaru yang memetakan permukaan Bulan mendeteksi bahwa molekul air dan hidroksil (OH) tersebar secara metastabil hampir di seluruh permukaan Bulan, bahkan hingga ke area dekat ekuator.

Apakah ada air lagi selain di bumi dan di bulan?
Ya, bahkan ada dalam jumlah yang sangat melimpah! Air sebenarnya adalah salah satu molekul paling umum di alam semesta.
Di tata surya kita sendiri, Bumi bahkan bukanlah tempat dengan cadangan air terbanyak. Beberapa bulan yang mengorbit planet raksasa seperti Yupiter dan Saturnus menyimpan samudra cair raksasa di bawah kerak es mereka, dengan volume air yang jauh melampaui seluruh lautan di Bumi.
Apakah ada makhluk hidup yang bisa bertahan tanpa air?
Jawabannya adalah: Tidak ada.
Sejauh ini, ilmuwan belum pernah menemukan satu pun makhluk hidup di Bumi yang bisa bertahan hidup dan berkembang biak sama sekali tanpa air. Air adalah syarat mutlak bagi kehidupan seperti yang kita kenal. Semua makhluk hidup — mulai dari bakteri mikroskopis, tanaman, hingga paus raksasa — membutuhkan air agar sel-sel tubuh mereka bisa berfungsi.
Namun, ada beberapa makhluk hidup yang memiliki "kekuatan super" unik: mereka bisa bertahan hidup dalam kondisi kekeringan ekstrem tanpa air selama bertahun-tahun dengan cara menghentikan sementara proses hidupnya. Fenomena ini disebut anhidrobiosis (hidup tanpa air).
Berikut adalah beberapa makhluk luar biasa yang bisa "mati suri" saat tidak ada air:
1. Tardigrada (Beruang Air)
Makhluk mikroskopis berkaki delapan ini adalah jawara bertahan hidup di Bumi. Ketika lingkungan sekitarnya mengering, tardigrada akan mengeluarkan hampir seluruh air dari tubuhnya (menyisakan kurang dari 1%), menggulung tubuhnya menjadi bola kecil yang disebut tun, dan menghentikan metabolismenya.

Dalam kondisi "mati suri" ini, mereka bisa bertahan dari kekeringan ekstrem, suhu beku absolut, panas mendidih, hingga radiasi luar angkasa. Begitu mereka terkena setetes air lagi, mereka akan "bangun" dan beraktivitas normal kembali dalam hitungan jam.
2. Udang Air Asin (Sea Monkeys / Brine Shrimp)
Telur atau kista dari udang air asin bisa mengalami dehidrasi total dan bertahan dalam kondisi kering selama bertahun-tahun. Begitu telur-telur kering ini dimasukkan ke dalam air asin yang sesuai, mereka akan menetas menjadi larva udang yang aktif.
3. Tanaman Kebangkitan (Resurrection Plant)
Salah satu contohnya adalah Selaginella lepidophylla, tanaman gurun yang bisa mengering sepenuhnya hingga tampak seperti bola jerami mati yang berwarna cokelat saat musim kemarau. Tanaman ini bisa bertahan dalam kondisi kering tersebut selama bertahun-tahun. Namun, begitu hujan turun, bola jerami ini akan membuka dan berubah menjadi hijau segar kembali hanya dalam beberapa jam.
