Fakta Tentang Yaman
Populasi dan Ukuran Wilayah
Populasi Yaman berjumlah sekitar 40,6 juta jiwa. Jumlah penduduk Yaman lebih banyak daripada Arab Saudi, meskipun Arab Saudi jauh lebih kaya dan lebih maju.

Yaman menempati peringkat kedua dalam hal luas wilayah dan peringkat pertama dalam hal jumlah penduduk di antara tujuh negara di Semenanjung Arab.
Yaman umumnya dianggap sebagai salah satu negara Arab termiskin, dan berdasarkan sejumlah indikator ekonomi, posisinya berada di atau mendekati peringkat terbawah. Bank Dunia melaporkan bahwa perekonomian Yaman telah mengalami kemerosotan tajam setelah bertahun-tahun dilanda konflik.
Sebaran penduduk Yaman sangat tidak merata. Sebagian besar penduduk Yaman tinggal di wilayah barat dan barat-tengah negara tersebut, terutama di dataran tinggi pegunungan di sekitar ibu kota, Sana'a. Wilayah timur Yaman jauh lebih sepi penduduknya karena sebagian besar wilayahnya berupa gurun kering.
Mengapa penduduk terkonsentrasi di wilayah barat?
Curah hujan dan lahan pertanian yang lebih memadai. Dataran tinggi bagian barat menerima curah hujan musiman yang lebih tinggi dibandingkan gurun di timur, sehingga lebih mudah untuk bercocok tanam dan menopang kehidupan desa.
Kota dan komunitas yang sudah lama terbentuk. Sana'a, Taiz, dan Ibb dikelilingi oleh kawasan pertanian dan permukiman yang sudah lama ada dan mampu menopang populasi yang besar.
Kondisi yang keras di wilayah timur. Sebagian besar wilayah timur Yaman sangat kering, dengan ketersediaan air dan lahan pertanian yang terbatas. Penduduknya lebih tersebar, sering kali tinggal di dekat kota, lembah, dan sumber air.
Analisis geografis historis memperkirakan bahwa sekitar 90% penduduk Yaman tinggal di separuh wilayah bagian barat negara tersebut. Hal ini berarti sebagian besar wilayah Yaman dihuni oleh relatif sedikit orang, sementara dataran tinggi bagian baratnya memiliki banyak kota, desa, dan lahan pertanian yang letaknya berdekatan.
Bahasa dan Agama
Penduduk Yaman umumnya berbicara bahasa Arab, dan hampir seluruh populasinya memeluk agama Islam. Namun, Yaman memiliki perbedaan keagamaan yang penting: umat Muslim di sana terbagi antara tradisi Sunni dan Syiah.
Bahasa Arab adalah bahasa resmi Yaman dan bahasa sehari-hari bagi sebagian besar penduduknya. Penduduk menuturkan berbagai dialek bahasa Arab Yaman yang berbeda tergantung pada wilayah tempat tinggal mereka.
Sana'a dan wilayah utara: Dialek bahasa Arab Yaman Utara. Aden dan wilayah selatan: Variasi bahasa Arab Yaman Selatan. Yaman Timur: Dialek regional lainnya, yang dipengaruhi oleh sejarah lokal dan wilayah sekitarnya.
Beberapa komunitas juga menuturkan bahasa Soqotri dan Mehri; keduanya merupakan bahasa tersendiri yang berkerabat dengan bahasa Arab dalam rumpun bahasa Semit yang lebih luas. Bahasa-bahasa ini terutama dikaitkan dengan Pulau Socotra dan sebagian wilayah timur Yaman.

Apa perbedaan antara Sunni dan Syiah di Yaman?
Penduduk Yaman sebagian besar beragama Islam. Dua aliran utamanya adalah Islam Sunni dan Islam Syiah, khususnya cabang Syiah Zaidiyah.
Muslim Sunni (sekitar 60–65%) terutama banyak terdapat di wilayah selatan dan tenggara Yaman, serta di sebagian wilayah barat dan daerah lainnya.
Muslim Syiah mencakup sekitar 35–40% populasi. Sebagian besar Muslim Syiah Yaman menganut paham Zaidiyah, sebuah cabang yang memiliki sejarah dan tradisi keagamaan tersendiri. Penganut Zaidiyah terutama terkonsentrasi di wilayah utara Yaman.
Baik Sunni maupun Syiah sama-sama mempercayai Allah, mengakui Al-Qur'an sebagai kitab suci, dan memandang Muhammad sebagai nabi terakhir. Perbedaan sejarah di antara keduanya berkaitan dengan masalah kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Muhammad, serta perbedaan dalam tradisi keagamaan dan yurisprudensi.
Sejarah
Yaman memiliki salah satu sejarah tertua dan menarik di Timur Tengah. Wilayah ini pernah menjadi tempat berdirinya kerajaan-kerajaan kaya yang menguasai jalur perdagangan dan rute dupa yang penting, kemudian menjadi pusat peradaban Islam yang signifikan, dan akhirnya terpecah menjadi dua negara sebelum bersatu kembali pada tahun 1990. Saat ini, Yaman diakui secara internasional sebagai satu negara, namun telah mengalami perang saudara selama bertahun-tahun.
Jauh sebelum Arab Saudi dan negara-negara modern di Timur Tengah terbentuk, wilayah selatan Jazirah Arab merupakan tempat bagi beberapa kerajaan kuat, seperti Kerajaan Saba (Sheba) dan Kerajaan Himyar.
Yaman pernah disebut sebagai "Arabia Felix" — yang berarti "Arabia yang Bahagia" atau "Arabia yang Beruntung" — oleh bangsa Romawi karena kekayaan pertanian dan perdagangan komoditas bernilai tinggi yang dimilikinya.
Berbeda dengan citra Yaman saat ini sebagai negara miskin, sebagian wilayah Yaman kuno merupakan pusat perdagangan dan peradaban yang makmur.
Masuknya Islam
Islam menyebar ke Yaman pada masa hidup Nabi Muhammad dan pada dekade-dekade setelah wafatnya beliau pada tahun 632 M. Yaman secara bertahap menjadi bagian dari dunia Muslim yang lebih luas, terhubung dengan jaringan perdagangan dan pusat-pusat politik di seluruh Jazirah Arab, Afrika Utara, dan Timur Tengah.

Kekaisaran Ottoman dan kekuasaan Inggris
Sejarah modern Yaman dibentuk oleh dua kekuatan asing.
Kekaisaran Ottoman menguasai sebagian wilayah Yaman utara dalam beberapa periode, termasuk sebagian besar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Inggris merebut pelabuhan strategis Aden pada tahun 1839. Aden memiliki nilai penting karena letaknya yang berada di dekat pintu masuk Laut Merah, di sepanjang jalur pelayaran antara Eropa dan Asia.
Ketika Kekaisaran Ottoman runtuh setelah Perang Dunia I, Yaman utara meraih kemerdekaan pada tahun 1918. Sementara itu, Yaman selatan tetap berada di bawah kendali Inggris hingga Inggris menarik diri pada tahun 1967.
Hal ini menciptakan perpecahan yang berkepanjangan: wilayah utara dan selatan mengembangkan pemerintahan, sistem politik, dan hubungan internasional yang berbeda.
Yaman menjadi dua negara terpisah
Yaman Utara
Pada tahun 1962, sebuah revolusi menggulingkan sistem monarki dan mendirikan republik. Perang saudara kemudian pecah antara kubu republik dan kubu royalis; Mesir mendukung pihak republik, sedangkan Arab Saudi mendukung pihak royalis.
Yaman Selatan
Setelah penarikan pasukan Inggris pada tahun 1967, Yaman selatan meraih kemerdekaan. Pada tahun 1970, wilayah ini mengadopsi sistem politik berhaluan Marxis dan menjalin hubungan erat dengan Uni Soviet.
Selama beberapa dekade, kedua Yaman merupakan negara yang terpisah. Yaman utara memiliki hubungan lebih erat dengan Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya, sementara Yaman selatan berpihak pada blok Soviet.
Kedua pihak juga sempat terlibat dalam perang perbatasan singkat pada tahun 1972 dan kembali terjadi pada tahun 1979. Meskipun kedua pemerintah pada akhirnya mengupayakan penyatuan, perbedaan politik di antara mereka tetap signifikan.

Penyatuan kembali Yaman pada tahun 1990
Pada tanggal 22 Mei 1990, Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman.
Negara baru ini awalnya dipimpin oleh Ali Abdullah Saleh, yang sebelumnya memimpin Yaman Utara, sementara pemimpin dari selatan, Ali Salem al-Beidh, menjabat sebagai wakil presiden.
Namun, penyatuan tersebut tidak serta-merta meredakan ketegangan. Para pemimpin selatan merasa semakin terpinggirkan, dan pada tahun 1994 pecah perang saudara setelah mereka berupaya memisahkan diri. Pasukan pemerintah utara memenangkan konflik tersebut, sehingga negara tetap bersatu.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa perpecahan utara-selatan di Yaman tidak serta-merta hilang saat perbatasan dihapuskan. Identitas kedaerahan, persaingan politik, dan perbedaan pendapat mengenai sumber daya tetap berlanjut.
Kebangkitan kelompok Houthi
Gerakan Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, bermula di Yaman utara di kalangan komunitas yang berafiliasi dengan Islam Syiah Zaidiyah.

Kebangkitannya dipengaruhi oleh beberapa faktor:
Keluhan terkait ketimpangan wilayah: Para pendukung berpendapat bahwa komunitas utara terpinggirkan secara politik dan ekonomi.
Identitas keagamaan: Gerakan ini tumbuh sebagian sebagai respons terhadap kekhawatiran mengenai posisi tradisi Zaidiyah di Yaman.
Konflik dengan pemerintah: Pasukan Houthi terlibat dalam beberapa perang melawan pemerintahan Saleh antara tahun 2004 dan 2010.
Pada tahun 2011, gelombang protes Arab Spring merambah ke Yaman. Para pengunjuk rasa menuntut reformasi politik dan berakhirnya kekuasaan panjang Saleh. Saleh akhirnya mundur pada tahun 2012 dan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansur Hadi.
Namun, masa transisi tersebut terkendala oleh korupsi, kesulitan ekonomi, keluhan daerah, serta perbedaan pendapat mengenai pembagian kekuasaan. Kelompok Houthi memanfaatkan ketidakstabilan ini dan merebut ibu kota, Sana'a, pada bulan September 2014.
| Home | Cara Membeli | Contact Us | About Us | Sitemap | BanSos |